Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan
tentang ketaatan mutlak dan keikhlasan luar biasa kepada Allah. Inilah renungan
diri dari salah satu kisah paling menggetarkan dalam sejarah Islam.
Terkadang, kita sulit untuk taat. Apalagi jika yang
diperintahkan terasa berat, tidak masuk akal, atau bertentangan dengan
keinginan hati. Tapi mari kita belajar sejenak dari dua sosok mulia: Nabi Ibrahim AS
dan Nabi Ismail AS.
Bayangkan.
Seorang ayah yang sangat lama menantikan anak.
Seorang anak yang menjadi buah hati, darah daging, harapan masa depan.
Lalu datang perintah dari Allah: “Sembelih
anakmu.”
Bukan mimpi biasa. Itu wahyu.
Dan apa yang terjadi?
Nabi Ibrahim tidak ragu. Nabi Ismail pun tidak
mengeluh.
Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.- (QS. Ash-Shaffat: 102)
Di sinilah letak renungannya
Apa yang membuat mereka mampu taat dalam ujian
seberat itu?
Ikhlas.
Yakin.
Tunduk sepenuhnya kepada Allah.
Sementara kita?
Kadang diminta salat, berat.
Disuruh jujur, beralasan.
Diminta menahan amarah, enggan.
Bahkan untuk menahan diri dari ghibah dan dosa kecil pun masih sering gagal.
"Sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
(QS. Al-An’am: 162)
Taat itu tidak selalu mudah. Tapi
selalu benar.
Ikhlas itu tidak selalu ringan. Tapi selalu membebaskan.
Mari kita renungkan
Kita mungkin tidak diminta menyembelih anak. Tapi kita sering diminta
menyembelih ego, nafsu, dan kesombongan.
Itulah ujian kita hari ini.
Belajarlah dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Mereka tidak hanya mengajarkan ketaatan
Mereka mewariskan jejak ikhlas yang tak lekang oleh zaman.
Tunduklah kepada Allah dengan cinta, karena Dia tidak pernah menundukkanmu kecuali untuk kebaikanmu.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang taat dan
ikhlas, dalam keadaan lapang maupun sempit. Aamiin.
.png)
0 Komentar